"Kebaikan bisa menjadi bentuk yang sangat bermanfaat dan menghangatkan hati, hingga dapat digunakan menjadi topeng untuk merebut suatu tujuan untuk kepentingan individu tersebut."
Tentunya di dalam hidup ini kita menemukan banyak kebaikan dari manusia, yang mana itu bisa didasari dengan ketulusan yang murni atau sebaliknya kebaikan dengan kepentingan yang tertuju. Manusia memiliki sifat dasar yang bervariasi akan tetapi terstruktur pada tempatnya, seluruh emosi dalam manusia itu bersifat permanen, mulai dari senang ke sedih maupun sabar ke marah. Seluruhnya dikendalikan oleh bentuk permanen dari akal dan lingkungan yang membentuk pribadi tersebut, disini saya akan menjelaskan bagian kebaikan bisa menjadi bentuk yang sangat bermanfaat dan menghangatkan hati, hingga dapat digunakan menjadi topeng untuk merebut suatu tujuan untuk kepentingan individu tersebut.
Aristoteles pernah mengajarkan bahwa kebaikan sejati bukan tentang pencitraan, melainkan kebiasaan moral yang terus dilakukan bahkan ketika tidak ada yang melihat. Orang yang benar-benar bijak biasanya tidak terlalu sibuk membuktikan dirinya baik. Ia lebih fokus menjaga agar tindakannya tidak merugikan orang lain. Maka berhati-hatilah pada kebaikan yang selalu ingin disaksikan banyak orang.
Sebab dalam kehidupan, ada pribadi yang menjadikan kelembutan sebagai jembatan untuk menyatukan manusia. Tetapi ada juga yang menjadikan kelembutan sebagai cara paling aman untuk mengendalikan manusia tanpa terlihat memaksa. Mereka tidak selalu menyerang secara langsung. Kadang mereka hanya membentuk opini secara perlahan, membuat orang lain merasa berutang emosional, lalu tanpa sadar menggiring arah hubungan sesuai kepentingannya sendiri. Hal seperti ini sering kali sulit dikenali karena dibungkus dengan perhatian, empati, bahkan pengorbanan. Padahal ketulusan dan manipulasi memiliki perbedaan yang sangat mendasar.
Orang yang tulus akan tetap menghargaimu meski kamu tidak selalu mengikuti keinginannya. Sedangkan orang yang manipulatif biasanya mulai berubah ketika ia kehilangan kendali atas dirimu. Di situlah topeng perlahan terlihat.
Immanuel Kant mengingatkan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai alat untuk memenuhi tujuan pribadi. Ketika hubungan dibangun hanya demi pengaruh, validasi, atau kekuasaan emosional, maka hubungan itu kehilangan nilai kemanusiaannya. Karena itu, jangan hanya belajar menjadi orang baik. Belajarlah juga menjadi orang yang jernih dalam menilai. Tidak semua yang terlihat paling peduli benar-benar paling tulus. Tidak semua yang terlihat diam berarti tidak memiliki hati baik. Dan tidak semua yang pandai berbicara tentang kebersamaan benar-benar siap berjalan bersama.
Dalam kehidupan sosial, manusia bijak biasanya tidak terlalu haus untuk terlihat suci. Ia tidak perlu terus-menerus menunjukkan bahwa dirinya paling menderita, paling peduli, atau paling berjasa. Kebaikannya terasa alami, tidak dipaksakan, dan tidak menjadikan orang lain sebagai panggung untuk membangun citra dirinya sendiri. Sementara itu, orang yang terlalu sibuk menjaga penampilan moral sering kali justru lupa menjaga kemurnian niatnya.
Maka jagalah hati, tetapi jangan matikan akal sehat. Tetaplah lembut, namun jangan kehilangan kemampuan membaca keadaan. Sebab kedewasaan bukan hanya tentang mampu mencintai manusia, melainkan juga mampu memahami watak manusia. Pada akhirnya, kebaikan sejati tidak selalu paling terlihat. Kadang ia hadir dengan sederhana, tenang, dan tidak banyak bicara. Tetapi dari situlah lahir rasa aman, penghormatan, dan ketulusan yang tidak dibuat-buat. Dan mungkin, manusia terbaik bukanlah mereka yang paling terlihat seperti malaikat di depan banyak orang, melainkan mereka yang tetap memiliki hati yang bersih bahkan ketika tidak ada siapa pun yang memujinya. Penulis: Indratama Arya Putra
25 kali dibaca
3 menit baca
A
Admin Medinfo 1
Penulis artikel dan anggota aktif UKM Mahasiswa. Memiliki passion dalam menulis dan berbagi pengetahuan.
17 artikel